Fahri Hamzah Sebut Ahok dan Erick Thohir Sama-sama Nyasar

Fahri Hamzah 
NAFAZNEWS.COM - Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah mengatakan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Menteri BUMN Erick Thohir adalah dua orang yang sedang dalam kondisi kesasar.

"Ahok dan Eric sama2 nyasar," cuit Fahri lewat akun Twitter-nya, @Fahrihamzah, Rabu (16/9).

Saat dikonfirmasi oleh CNNIndonesia.com, Mantan Wakil Ketua DPR ini menjelaskan maksud pernyataan "nyasar" dalam cuitannya itu, yakni merujuk ke peta tugas dan pekerjaan keduanya di pos masing.

Menurut dia seperti ditulis dalam cuitannya yang lain, meski Ahok dan Erick sama-sama kesasar, salah satu dari keduanya 'sudah agak siuman'.


"Yang satu sudah agak siuman tapi yang satu masi asik salah jurusan, metro mini keluyuran di media sosial kayaknya gak bakal sampai tujuan," tulis dia.

Tak hanya itu, Fahri juga menyatakan keduanya adalah orang-orang 'titipan' di Kementerian dan Perusahaan yang saat ini ditempatinya.

Hal itu, kata dia, disebabkan jabatan yang dimiliki keduanya merupakan 'penunjukan', bukan terpilih.

"Erik dan Ahok ini keduanya titipan sebab keduanya penunjukan. Hanya pejabat "elected" yang bukan titipan kemudian yang "selected". Mereka berdua ini "appointed". Jadi duduk aja bareng sesama orang nyasar. Siapa tau bisa ketemu Arah Baru," kata dia.

Komentar Fahri keluar usai Ahok lagi jadi sorotan lantaran secara mengejutkan bicara lantang dan membuka berbagai aib Pertamina. Ahok bicara mulai dari pengelolaan utang, ia kesal karena Pertamina terlalu mudah menarik utang padahal sudah memiliki beban utang yang tinggi.

"Udah utang US$16 miliar. Tiap kali otaknya minjem duit. Saya kesal nih," ucap Ahok dalam sebuah narasi video yang diunggah di akun Youtube POIN.

Selain utang, Ahok juga membuka kekurangan perusahaan terkait pengelolaan sumber daya minyak. Menurut catatan Ahok, setidaknya ada 12 titik minyak yang bisa dieksplorasi untuk produksi minyak di dalam negeri.

Namun, BUMN itu justru lebih memilih terus memenuhi kebutuhan minyak di dalam negeri melalui keran-keran impor. Hal ini pun sempat mengundang kecurigaannya bahwa ada praktik kotor yang dilakukan diam-diam.

"Ngapain di luar negeri. Jangan-jangan ada komisi beli-beli minyak," ungkapnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menyinggung gaji direksi Pertamina yang dianggap tidak wajar. Sebab, sering kali seorang direksi sudah dicopot dari sebuah jabatan, namun masih mendapat gaji sesuai jabatan lama.

"Masa dicopot gaji masih sama. Alasannya karena orang lama. Ya harusnya gaji mengikuti jabatan Anda kan. Tapi mereka bikin gaji pokok gede semua. Jadi bayangin gaji sekian tahun gaji pokok bisa Rp75 juta. Dicopot, gak ada kerjaan pun dibayar segitu. Gila aja nih," papar Ahok.

Tak ketinggalan, Ahok juga mengkritik soal kebiasaan direksi yang disebutnya suka melobi menteri. Aib ini diketahuinya saat pergantian direksi Pertamina beberapa waktu lalu.

Bahkan, ia sebagai komisaris mengaku tidak tahu menahu kalau direksi mau diganti saat itu.

"Ganti direktur bisa tanpa kasih tahu saya. Saya sempat marah-marah juga. Direksi-direksi semua mainnya lobi ke menteri, karena yang menentukan itu menteri," ujarnya.

Ahok juga menyinggung wacana membubarkan Kementerian BUMN dan menggantinya dengan sistem seperti di Singapura yang memiliki Temasek Holding.

"Kalau bisa Kementerian BUMN dibubarkan. Kita membangun semacam Temasek, semacam Indonesia Incorporation," tuturnya.(R04)


Sumber Berita: cnnindonesia.com

Comment

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Previous Post Next Post