Haru! Kisah Pengantin Baru Meninggal dalam Tugas Sebagai Perawat Pasien Covid-19

Perawat Khaerul Arham meninggal karena Corona. Istimewa
NAFAZNEWS.COM - Masih segar dalam ingatan Hasrianti (29), saat menceritakan semangat sang suami, Khaerul Arham (28) dalam merawat pasien Covid-19. Keduanya baru menikah. Usia mahligai rumah tangga yang dibangun belum genap setahun, masih usia jagung kalau kata orang.

Selayaknya pengantin muda, keduanya punya cita-cita bersama memiliki rumah impian. Inginnya, mereka berdua memiliki rumah di perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Namun impian tersebut harus tertunda hingga akhirnya Khaerul Arham pergi terlebih dahulu meninggalkan Hasrianti untuk selamanya.

Khaerul Arham bekerja sebagai perawat pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Dia mengembuskan napas terakhir usai dirawat selama 26 hari dengan status positif Covid-19.

Dikutip merdeka.com, Hasrianti bercerita bahwa dia bersama Kaherul Arham sedianya tinggal di rumah baru bulan Mei lalu namun tertunda. Kemudian direncanakan lagi Oktober ini. Bagi keduanya, bulan kesepuluh ini menjadi istimewa lantaran bulan pernikahan.

Hasrianti awalnya mengenal Khaerul Arham dari seorang teman yang masih sepupu Khaerul Arham. Baginya, arti sosok Khaerul Arham sangatlah dalam. Sejak menikah, dia tidak pernah mendengar suara bernada tinggi dari suaminya, selalu menasihati dan sosok bertanggung jawab.

"Di hari pertama dirawat di rumah sakit, kondisinya sudah merasakan tidak enak badan dan kerap mengeluhkan pandangan gelap, tapi tetap beraktifitas seperti biasa. Dia masih sempat mendorong kursi roda pasien untuk cuci darah. Sorenya, baru dia coba-coba tensi atas saran teman-temannya dan ternyata tensi di atas normal. Saat itulah dia masuk UGD," cerita Hasrianti.

Hasrianti menuturkan, sejak menikah, dia dan Khaerul hidup terpisah karena sang suami bertugas di Makassar,

sementara dia bertugas sebagai pegawai honorer di RSUD Sinjai, Kabupaten Sinjai.

Meski terpisah karak, namun keduanya tetap intens silih berganti saling mengunjungi. Seiring berjalannya waktu, keduanya memutuskan untuk bisa membeli rumah. Masrianti juga ingin bekerja di satu kota dengan sang suami di Makassar.

Dan tiga bulan setelah menikah, keduanya beli rumah di Kecamatan Moncongloe, perbatasan Makassar-Kabupaten Maros. Setelah akad kredit, direncanakan masuk rumah baru bulan Maret 2020. Namun tertunda karena Khaerul bertugas jadi tim perawat Covid dan mengharuskannya menginap di Hotel Dalton, tempat yang dikhususkan untuk perawat Covid-19.

Jadi Khaerul yang tadinya bertugas di gedung Pusat Jantung Terpadu (PJT) RSUP Wahidin Sudirohusodo, berpindah ke gedung sebelah untuk merawat pasien Covid-19.

Setelah tugas tahap pertama selesai, Khaerul bersama rekan-rekannya yang lain menjalani masa karantina selama 14 hari di gedung Balai Besar Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Makassar, sebelum berinteraksi dengan dunia luar. Jalani pemeriksaan swab dan hasilnya negatif.

"Keluar dari karantina di Bapelkes bulan Juni, kami kembali mempersiapkan rumah. Sekalian kerjakan bagian dapur agar benar-benar siap huni nanti dan ruangan terasa lebih luas. Tepat saat bangunan dapur sudah selesai, bapak (Khaerul) kembali dapat tugas kedua jadi tim perawat dari Juli hingga Agustus. Itulah sehingga kami agendakan ulang masuk rumah Oktober karena Agustus, masa tugasnya selesai disusul masa-masa karantina," tutur Hasrianti.

Khaerul kemudian menyelesaikan tugasnya di tahap kedua sebagai tim perawat Covid-19 di awal Agustus disusul masa karantina 10 hari lagi.

"Keluar dari masa karantina kedua di Bapelkes, bapak ke Kabupaten Sinjai menemui saya. Kali ini tidak jalani pemeriksaan swab tapi rapid test dan hasilnya nonreaktif. Saat itu, bapak mulai merasakan tidak enak badan sehingga tidak pernah keluar rumah selama lima hari di Sinjai. Sempat saya ajak ke rumah sakit untuk periksa, bapak bilang tidak usah. Nanti sekalian di Makassar. Dan saat itu bapak mulai menduga-duga jangan sampai tertular Covid," kata Hasrianti.

Setelah lima hari Sinjai, Hasrianti kemudian mendampingi suaminya ke Makassar karena merencanakan periksa diri dan menginap di indekos seperti biasa.

Pagi harinya, kata Hasrianti, suaminya kembali bertugas di lantai lima Pusat Jantung Terpadu (PJT) RSUP Wahidin Sudirohusodo.

"Usai layani pasien, bapak lakukan tensi dan ternyata tinggi, mencapai 230. Lalu masuk UGD, 24 Agustus itu untuk menormalkan hipertensinya. Juga dilakukan cek laboratorium, ternyata ureum kretinin juga tinggi (masalah pada ginjal). Setelah lakukan pemeriksaan swab, bapak dipindahkan ke ruang perawatan PJT lantai 3," tuturnya.

Empat hari di ruang perawatan PJT, hasil pemeriksaan swab keluar yakni Minggu (30/8), dan hasilnya dinyatakan positif Covid-19.

perawat khaerul arham meninggal karena corona

Istimewa

Sedianya, perawatan Khaerul dipindahkan ke ruang Palem, ruangan yang khusus bagi perawat yang terpapar Covid-19. Namun karena Khaerul harus cuci darah maka dia dipindahkan perawatannya dari ruang perawatan PJT ke ruang Infection Center (IC) karena peralatan cuci darah ada di ruang IC.

Kata Hasrianti, selama perawatan di ruang IC, Khaerul optimistis tidak lama lagi keluar dan kembali bertugas di PJT karena kondisi demamnya juga sudah lewat.

"Tapi setelah dua minggu dirawat, tiba-tiba kondisi bapak drop. Mulai sesak napas, batuk. Sebelum hilang kesadarannya, bapak sempat bicara lewat telepon bahwan mungkin umurnya sudah tidak lama tapi saya selalu kasih semangat. Selama bapak di rumah sakit, saya tidak pernah pulang ke Sinjai, dampingi terus bapak penuhi kebutuhannya dan komunikasi lewat telepon," kata Hasrianti.

Hari Minggu pagi (13/9), tambah Hasrianti, dia diberi kebijakan dari pihak rumah sakit untuk mendampingi suaminya saat akan diturunkan dari ruang Infection Center lantai 3 ke lantai 1, dengan catatan harus kenakan APD lengkap.

"Saat saya dampingi itu, bapak masih sempat tersenyum bahkan ketawa tapi saya sudah mulai panik karena di ruang perawatan di lantai 1 itu sudah harus dipasangi ventilator. Malamnya atau Minggu malam, kesadaran bapak sudah hilang tapi sebelumnya masih sempat minta ke rekannya untuk dituntun salat taubat dan salat Isya. Dituntun tayamum. Empat hari tidak sadarkan diri, Jumat siang, (18/9), bapak meninggal dunia," tutur Hasrianti.

Setelah kehilangan suami tercinta, kini Hasrianti memilih bersendiri di indekos di Makassar. Rencananya, dia akan resign dari RSUD Sinjai dan tinggal di rumah barunya kelak sembari cari peluang kerja di Makassar. "Suami pernah berpesan, rumah itu untuk ditinggali," tutur Hasrianti.

Kisah pilu juga datang dari almarhum Saidi (53), kepala puskesmas Tonrorita, Kelurahan Tonrorita, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, Sulsel berlatar belakang perawat. Dia adalah tenaga kesehatan kedua di Sulsel yang meninggal dunia karena Covid-19, 4 Juni 2020 menyusul Haji Umar dari Kabupaten Sidrap yang wafat, 2 Juni.

Sri Putri Sniwati (25), putri kedua dari tiga putri Saidi menuturkan, dirinya tidak tahu, Saidi bapaknya tertular Covid-19 dari mana, karena di Puskesmas tempatnya mengabdi belum pernah terdengar temuan pasien terkonfirmasi positif dari virus mematikan itu.

Hanya saja memang, kata Sri, sebelum terpapar, bapaknya aktif mengunjungi orang sakit dari rumah ke rumah jika ada panggilan.

"Tidak tahu bapak kena Covid itu dari Puskesmas kah atau dari warga yang bapak kunjungi, periksa di rumahnya," kata Sri.

Dia menuturkan, jiwa sosial Bapak Saidi sangatlah tinggi. Selalu melayani warga tanpa pandang bulu.

"Siapa pun dilayani meski tanpa bayaran. Karena jiwa kemanusiaanya inilah bapak disegani. Apapun kegiatan pemerintahan, khususnya tingkat kecamatan, bapak selalu diundang. Kepada keluarga juga begitu, penuh kasih sayang, disiplin tapi tidak memaksakan," kata Sri.

Suatu hari, tutur Sri, Saidi bapaknya mengeluhkan sakit kepala dan demam. Itu dirasakan setelah beberapa hari usai lebaran Idul Fitri bulan Mei lalu.

Ditemani Hajjah Samsinar, istrinya, Saidi ke Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa untuk periksa swab. Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan swab keluar dan terkonfirmasi positif Covid-19.

"Bapak langsung dibawa ke Makassar, 31 Mei. Dirawat di Rumah Sakit Labuang Baji Hanya 4 hari bapak dirawat, dua hari di antaranya tidak sadarkan diri dan dipasangi ventilator, bapak meninggal dunia, 4 Juni dan dimakamkan di pekuburan Macanda tempat pasien covid dimakamkan. Bapak ada penyakit penyerta, diabetes dan hipertensi," tutup Sri Putri Sniwati.

Saidi meninggalkan satu istri, Hajjah Samsinar, seorang guru SD di Kabupaten Gowa dan tiga anak.

 

 

Sumber: Merdeka.com

Comment

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Previous Post Next Post