Turki Uji Coba Rudal Rusia, AS Ngamuk

Peluncur rudal balistik antarbenua Topol Rusia melintas di Lapangan Merah, Moskow. AP/
NAFAZNEWS.COM - Pentagon dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan teguran keras kepada Turki menyusul laporan bahwa militer Turki menguji sistem rudal buatan Rusia, sebuah langkah yang selanjutnya dapat memicu ketegangan antara Washington dan anggota NATO.

Dalam beberapa hari terakhir, Turki mengatakan sedang bersiap untuk menguji S-400 buatan Rusia, sistem rudal yang bergerak dari permukaan ke udara, yang diyakini menimbulkan risiko bagi aliansi NATO serta platform senjata termahal Amerika: pesawat tempur F-35.

Pemerintah Turki telah mengatur kesepakatan dengan pemerintah Rusia pada 2017 untuk S-400, meski ada peringatan dari Amerika Serikat dan sekutu NATO lainnya. Pemerintah Rusia mengirimkan baterai rudal pertamanya dari total empat baterai rudal pada Juli 2019.

Seminggu kemudian, Amerika Serikat memutuskan kerja sama dengan Turki, baik sebagai mitra keuangan dan manufaktur, dari program F-35 setelah Turki menerima pengiriman sistem rudal buatan Rusia tersebut.

Pada Jumat (17/10/2020), seperti dikutip dari CNBC Internasional, baik Departemen Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri AS mengutuk uji coba rudal di lepas pantai Laut Hitam Turki tersebut, tetapi tidak mengonfirmasi apakah peluncuran itu terjadi.

"Amerika Serikat telah menyatakan kepada Pemerintah Turki, pada tingkat paling senior, bahwa akuisisi sistem militer Rusia seperti S-400 tidak dapat diterima," tulis juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus dalam sebuah pernyataan via email, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (17/10/2020).

"Amerika Serikat telah memperjelas harapan kami bahwa sistem S-400 tidak boleh dioperasikan," tambahnya.

"Kami keberatan dengan pembelian Turki atas sistem rudal tersebut dan sangat prihatin dengan laporan bahwa Turki akan mengoperasikannya. Ini seharusnya tidak diaktifkan. Melakukan hal itu berisiko menimbulkan konsekuensi serius bagi hubungan keamanan kita," kata juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman dalam pernyataan yang dikirim melalui email, Jumat (16/10/2020).

S-400, penerus sistem rudal S-200 dan S-300, memulai debutnya pada 2007. Dibandingkan dengan sistem AS, S-400 buatan Rusia diyakini mampu menyerang lebih banyak target, pada jarak yang lebih jauh dan melawan berbagai ancaman secara bersamaan.

Dalam berbagai upaya untuk mencegah Turki membeli S-400, pada 2013 dan 2017 Departemen Luar Negeri AS menawarkan untuk menjual sistem rudal Patriot Raytheon. Namun pemerintah Turki tidak menerimanya karena AS menolak memberikan transfer teknologi terkait sistem tersebut.

Pada 2017, Presiden Turki Recep Erdogan mengatur kesepakatan yang dilaporkan bernilai US$ 2,5 miliar dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk S-400 meskipun ada peringatan dari AS bahwa membeli sistem tersebut akan menimbulkan konsekuensi politik dan ekonomi.

Di bawah Undang-Undang Amerika terkait pemberian sanksi bagi yang melawan AS yang ditandatangani Presiden Donald Trump pada Agustus 2017, Turki dapat terkena sanksi ekonomi karena menerima sistem rudal Kremlin. Namun, Amerika Serikat belum mengeluarkan sanksi tersebut terhadap Turki.

"Kegagalan pemerintah AS untuk mengimplementasikan CAATSA sebagaimana yang dimandatkan UU adalah bahaya moral dan kontras dengan postur 'tekanan maksimum' yang dilakukan dalam banyak kasus lain," jelas Thomas Karako, Direktur Proyek Pertahanan Rudal di Pusat Studi Strategis dan Internasional.

"Erdogan tampaknya telah membuat pilihan strategis untuk lebih memilih Rusia daripada Amerika Serikat dan sekutu NATO lainnya. Ada beberapa pertanyaan sulit yang perlu diajukan tentang sekutu seperti apa Turki itu, sebenarnya, dan bagaimana masa depan tempat Turki di NATO," tambahnya.

Meskipun menghadapi potensi sanksi AS, belasan negara telah menyatakan minatnya untuk membeli sistem rudal S-400 Rusia.


Comment

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Previous Post Next Post