Balita Cantik Ini Tak Bisa Bergerak Bahkan Tertawa, Dokter Bilang Idap Penyakit Langka

NAFAZNEWS.COM - Apa jadinya jika kita punya anak tapi tak bisa bergerak, bahkan untuk sekadar tertawa itu dia tak bisa.

Adalah seorang bocah di Pasuruan, Jawa Timur (Jatim) yang mengidap penyakit langka.

Balita bernama Anindia Aulia Shifa ini tidak bisa bergerak seperti halnya anak-anak seusianya.

Dia tidak punya tenaga. Tak mampu menggerakkan kepala maupun tangan. Bahakan, sekadar mengunyah makanan pun tidak bisa.

Dokter memvonis, anak pasangan Teguh dan Yhaniar Putrianti ini mengidap penyakit langka, tetapi masih bisa diobati. Namun, kedua orang tua bocah ini tak cukup biaya untuk mengobatkan buah hatinya karena keterbatasan ekonomi.

Menurut Yhaniar, anaknya lahir dengan persalinan normal. Tak nampak tanda-tanda khusus dan sehat layaknya bayi lainnya.

"Memasuki usia enam bulan, pertumbuhannya agak terlambat. Seharusnya sudah mulaiulai bisa merangkak dan duduk, bahkan tertawa. Tapi anak saya tidak bisa," ujar warga Perum Pesona Tiga, Kelurahan Sekargadung, Bugulkidul, Kota Pasuruan ini, Sabtu (7/11/2020).

Yhaniar menambahkan, anaknya seperti tidak memiliki kekuatan menahan tubuh untuk tengkurap. Hanya bisa diam dan telentang di atas kasur. Untuk sekadar menoleh pun dia harus dibantu.

Menyadari kondisi anaknya seperti ini, Yhaniar memeriksakan buah hatinya di salah satu rumah sakit di Jatim. Dokter menduga, bayi yang lahir 25 September 2018 ini mengidap Metabolism Disorder atau kelainan metabolik.

Rumah sakit di Pasuruan maupun Malang tidak mampu berbuat banyak untuk menangani penyakitnya. Diagnosa penyakit pun sampai saat ini masih terus dicari dan didalami oleh dokter.

"Sebab penyakit yang diderita termasuk penyakit langka," katanya.

Salah satu saran dokter yakni melakukan tes cek genetik di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Hasil pemeriksaan di sana, sampel cek genetik itu akan dikirim ke luar negeri untuk diperiksa.

Apa daya, untuk ke Jakarta, mereka tidak ada biaya. Termasuk biasa cek genetik yang diperkirakan mencapai Rp15 juta.

"Ini jumlah uang yang besar bagi kami yang hanya seorang ibu rumah tangga," ujar Yhaniar yang suaminya hanya menjual jasa sedot WC.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Pemkot Pasuruan, Shierly Marlena mengatakan, penyakit balita ini termasuk langka. Untuk menanganinya harus cek genetik ke luar negeri, misalnya Singapura atau Jerman. Namun, pihaknya berjanji untuk terus mengupayakan.

"Dinas Kesehatan akan terus melakukan pendampingan pada Syifa," katanya.



Sumber: iNews.id

Comment

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Previous Post Next Post