-->

Type something and hit enter

Editor On




NAFAZNEWS.COM - Para ilmuwan telah memperingatkan selama beberapa dekade bahwa perubahan iklim akan membuat gelombang panas lebih sering dan lebih intens. Itu adalah kenyataan yang sekarang terjadi di Kanada, tetapi juga di banyak bagian lain di belahan bumi utara yang semakin tidak dapat dihuni.

Dilansir CNN, Minggu (4/6/2021), jalan-jalan mencair minggu ini di barat laut Amerika, dan penduduk di New York City diberitahu untuk tidak menggunakan peralatan berenergi tinggi, seperti mesin cuci dan pengering. Bahkan yang lebih menyakitkan, mereka tidak dibolehkan menyalakan AC demi jaringan listrik tidak melonjak.

Di Rusia, Moskow melaporkan suhu tertinggi Juni 34,8 derajat pada 23 Juni 21, dan petani Siberia berebut untuk menyelamatkan tanaman mereka dari kematian dalam gelombang panas yang berkelanjutan.

Bahkan di Lingkaran Arktik, suhu melonjak hingga 30-an derajat celcius. Organisasi Meteorologi Dunia sedang berusaha untuk memverifikasi suhu tertinggi yang pernah ada di utara Lingkaran Arktik, setelah stasiun cuaca di Verkhoyansk Siberia mencatat suhu tinggi pada 20 Juni.

Di India, puluhan juta orang di barat laut terkena gelombang panas. Departemen Meteorologi India pada hari Rabu mengklasifikasikan New Delhi mencapai panas ekstrem di 40-an derajat celcius, lebih tinggi 7 derajat dari suhu normal. Panas di akhir musim hujan, juga membuat kehidupan petani di negara bagian Rajasthan lebih sulit.

Dan di Irak, pihak berwenang mengumumkan hari libur di beberapa provinsi pada Kamis i Juli 2021, termasuk ibu kota Baghdad. Saat itu tercatat suhu melebihi 50 derajat dan sistem kelistrikannya runtuh.

Para ahli mengatakan sulit untuk menentukan dengan tepat bagaimana hubungan peristiwa cuaca ini, tetapi tidak mungkin kebetulan bahwa gelombang panas menghantam beberapa bagian belahan bumi utara pada saat yang bersamaan.

"Sistem tekanan tinggi yang kita lihat di Kanada dan Amerika Serikat, semua sistem ini didorong oleh sesuatu yang disebut aliran jet, jauh di atas kepala kita, sekitar 30.000 kaki jauhnya di atmosfer," Liz Bentley, Kepala Eksekutif di Royal Meteorological Society Inggris, mengatakan kepada CNN.

Bentley menjelaskan konfigurasi aliran jet mencegah sistem cuaca bergerak secara efisien di sepanjang jalur barat-ke-timur. "Aliran jet itu menjadi bergelombang, dan terjebak dalam apa yang kita sebut blok Omega, ketika masuk ke dalamnya, angin itu tidak bergerak ke mana pun," kata Bentley.

Di AS, hal yang sama terjadi pada pertengahan Juni di Barat Daya, memecahkan rekor di Meksiko dan tempat-tempat seperti Phoenix di Arizona. Beberapa minggu kemudian, sebuah kubah bertekanan tinggi terbentuk di atas Northwest, suhu di Washington, Oregon dan Kanada barat daya mencatatkan rekor baru.

"Jadi kami telah melihat suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya ini benar-benar hancur," kata Bentley.

Ilmuwan mengatakan, gelombang panas ini bisa terjadi setiap tahun pada tahun 2100. Kini para ilmuwan sedang mengerjakan alat canggih yang dapat dengan cepat menilai seberapa besar kontribusi perubahan iklim terhadap peristiwa cuaca tertentu.

"Kami menemukan bahwa tanpa pengaruh manusia, hampir tidak mungkin untuk mencapai rekor baru, dan Juni yang begitu panas di kawasan itu," kata kata ahli meteorologi UK Met Office, Nikos Christidis, merujuk pada daerah yang terkena dampak di Kanada dan AS.

Christidis mengatakan di masa lalu, tanpa perubahan iklim yang disebabkan manusia, panas ekstrem di AS Barat Laut atau Kanada Barat Daya akan terjadi "setiap puluhan ribu tahun sekali. "Saat ini, bisa terjadi setiap 15 tahun sekali," kata Christidis.

Dan jika emisi gas rumah kaca terus berlanjut, Christidis memerkirakan kondisi ini akan sering terjadi satu atau dua tahun pada pergantian abad.

Sumber: Sindonews.com

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Click to comment