-->

Type something and hit enter

author photo
Editor On

 

Guru ngaji yang tinggal di gubuk. (Photo/baitulmaal muamalat)

NAFAZNEWS.COM - Seorang guru ngaji dari Daerah Gowa, Sulawesi Selatan belum lama ini mencuri perhatian dengan apa yang dijalaninya dengan kehidupan yang sederhana. Guru ngaji bernama Bu Mastiah itu memilih profesi tersebut untuk menyiapkan generasi di daerahnya mempersiapkan bekal akhirat yang terbaik.


Dari laman Amal Sholeh yang diunggah oleh Baitulmaal Muamalat, Bu Mastiah mengatakan bahwa dirinya tak akan pernah berhenti mengajar meski dirinya telah tertimpah musibah.


“Walaupun rumah saya hancur, niat saya untuk tetap mengajar tak pernah luntur," ujar Bu Mastiah.


Dikutip dari laman indozone.id, sebelumnya, pada Januari 2019 lalu, terjadi longsor akibat hujan deras selama kurang lebih seminggu, yang menelan 68 nyawa dan 550 rumah rusak parah. Bu Mastiah menjadi salah satu dari korban akibat bencana tersebut.


Bu Mastiah tinggal bersama 5 anggota keluarga. Sejak rumahnya terbawa longsor, kini mereka tinggal di rumah hasil gotong royong warga yang terbuat dari kayu, beratapkan seng, dan tak ada MCK (Mandi, Cuci, Kakus).


Keluarganya terpaksa harus melewati perkebunan tanpa lampu jika ingin buang air di malam hari. Bu Mastiah dan suami bekerja sebagai buruh tanam jagung dan padi; itupun jika ada bibitnya. Selebihnya mereka bekerja serabutan di kebun untuk mencari kayu bakar.


Sudah lebih dari 20 tahun Bu Mastiah juga mengajar anak-anak di kampungnya, walaupun beliau hanya tamatan SD. Pendapatan suami sebagai muazin hanya Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per bulan untuk menyekolahkan anak-anak dan membeli lauk ikan; tak jarang mereka berpuasa saking tak ada uang.





Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Click to comment