-->

Type something and hit enter

author photo
Editor On

 

Ilustrasi

NAFAZNEWS.COM - Ada sebuah momen dan sebuah kisah menyedihkan tersebar di media sosial tentang seorang dokter sekaligus profesor ahli paru di salah satu rumah sakit yang lebih menyelamatkan pasien yang lain daripada dirinya sendiri yang juga terbaring sakit. 


Seperti diceritakan disana bahwa , Prof dr Taufik SpP(K) ikhlas memberikan ventilator demi pasiennya yang lebih memerlukan.


Dituliskan dalam kisah tersebut, Taufik terpapar covid-19. Dia pun dirawat di rumah sakit oleh anaknya. Tetapi, takdir berkata lain. Taufik menghembuskan nafas terakhir dengan memberikan pesan mengharukan.

Ilustrasi

Dalam unggahan kisah tersebut, dituliskan Taufik sempat dirawat oleh anaknya yang juga merupakan ahli paru.

Beberapa hari perawatan, profesor tersebut mengalami sesak nafas serta memerlukan pemasangan ventilator. Sebelum dilakukan pemasangan ventilator, Taufik menilai keadaannya sendiri lewat CT scan dan laboratorium lain.


Profesor itu pun kemudian menolak untuk pemasangan ventilator. Dirinya berasumsi bahwa ventilator tersebut amat diperlukan bagi pasien yang berpotensi sembuh.

Ilustrasi

"Dari ilmunya sang profesor berkesimpulan, ventilator ini sebaiknya diberikan saja pada orang yang hanya berpotensi untuk sembuh," tulis akun tersebut dalam kisahnya.


Pesan Terakhir

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Taufik dikisahkan sempat meminta agar ventilator tersebut tak dipasangkan untuknya.


Dia meminta agar ventilator itu diberikan kepada pasien yang muda. Alasannya, kata dia, pasien itu lebih membutuhkan.


"Berikan ventilator ini pada pasien yang muda saja, mereka lebih perlu diselamatkan daripada saya," ungkapnya.


Padahal ventilator tersebut telah dipersiapkan untuknya. Tetapi cuma dalam hitungan jam, Taufik menghembuskan nafas terakhirnya.


Kisah tentang dr Taufik pun viral bermula dari status Facebook yang dibagikan oleh Mardisyaf Ramli.


Dalam tulisan berjudul 'Ujian Akhir Seorang Profesor', Mardisyaf menyebut Prof dr Taufik merupakan gurunya di tahun 1979.


"Siapakah sang Profesor tersebut? Yang pasti, dia adalah salah seorang guru saya tahun 1979," tulis Mardisyaf Ramli. Di penghujung tulisan, dia menutup dengan tulisan Bekasi 9 Juli 2021


Komentar Warganet

Kisah tersebut menjadikan warganet merasa ikut terharu dengan apa yang dilakukan profesor tersebut.


Bahkan, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sempat mengomentari kisah tersebut melalui akun Twitter miliknya.


"Keluhuran jiwa .. selamat jalan Prof .. semoga Tuhan memberi tempat terbaik disisiNya,"cuit Susi Pudjiastuti.



Sumber: planet.merdeka.com


 

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Click to comment