zmedia

Demi untuk Rayakan Ultah Putrinya, Poniran Isolasi Diri Sendirian di Tengah Hutan, Begini Ceritanya

Poniran, 40, warga Hargotirto, Kokap, Kulonprogo saat menjalani isolasi diri di gubuk tengah hutan wilayah Kokap (HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA/JPG) 


NAFAZNEWS.COM - Pandemi corona membuat siapa saja yang bertatus orang dalam pemantauan (ODP) harus melakukan isolasi diri. Namun yang dilakukan Poniran, 40, warga Hargotirto, Kokap, Kulonprogo, ini unik. Ia memilih mengisolasi diri sendirian di tengah hutan.


Ada semacam perasaan yang tersekat dalam hidupnya. Begitulah gambaran seorang Poniran yang sedang menjalani isolasi diri dengan status ODP, usai mudik dari Tangerang, Banten. 


Ia harus ikhlas tinggal di gubuk sederhana di tengah hutan. Namun, kesadaran luar biasa itulah yang ditunjukkan suami Sri Sukarni ini.


Suasana yang lebih mengharu biru kian terasa, karena Rabu itu (22/4) ia sedianya berkumpul bersama keluarga untuk merayakan ulang tahun putri kesayangannya, Dina Avrilia Nuranini, yang ke-9. 


Tapi inilah kesadaran tinggi yang diterapkan Poniran dengan mata nanar. Ia terpakan menyanding kue tart yang sudah dipesan.


Tidak hanya itu, ia juga masih mampu menyalakan lilin ultah untuk anaknya, kendati harus ia tiup sendiri, memanjatkan doa sendiri untuk kesehatan dan kesuksesan anak semata wayangnya. 


“Sedih sih, tapi ini sudah menjadi konsekuensi saya,” ucapnya seperti dikutip dari Radar Jogja.


Sebagai seorang ayah, ia sebetulnya ingin memeluk sang putri di hari yang istimewa seraya mengucapkan ucapan selamat ulang tahun. Semua itu akhirnya hanya bisa dilakukan secara virtual. 


Ia mengucapkan selamat ulang tahun di ujung telepon dan menatap wajah putrinya dari gawai milik istrinya, yang tak lain ibunda Diana Avdilia Nuraini.


“Saya pulang dari Tangerang minggu kemarin. Saya harus bersyukur, sebab pilihan saya juga didukung keluarga untuk mentaaati protokol isolasi pencegahan penularan Covid-19 ini,” ungkap Poniran.


Menurutnya, tidak menginjakkan rumah selama 14 hari sepulang dari Tangerang adalah pilihan terbaik. Sebab, jika ia perkumpul dengan keluarga, konsekuensinya semua keluarga ikut menjalani isolasi.


“Stigma yang ada saat ini adalah siapa pun yang pulang dari merantau dianggap membawa virus, dan risikonya bisa dijauhi tetangga. Sekalipun dalam cek kesehatan tidak menunjukkan gejala apa pun, ya wajib mengisolasi diri,” ujarnya.


Istri Poniran, Sri Sukarni mengungkapkan, sepulang dari merantau suaminya belum pulang ke rumah. Setelah dilakukan penyemprotan cairan antispetik, ia langsung menempati gubug di hutan. Gubuk itu terbuat dari bambu yang sengaja dibuat oleh keluarga sebagai tempat isolasi mandiri.


Gubuk beratapkan terpal dan berjarak sekitar 50 meter dari rumah keluarga. Kendati tidak begitu jauh, protokol mewajibkan suaminya tidak bisa berkumpul atau bertatap muka dengan anggota keluarga lainnya.


“Kami rindu tapi kami harus tahan. Mungkin hanya melalui video call untuk berkomunikasi. Saya juga melarang keluarga untuk mendekat. Saya harus sadarkan keluarga bahwa bapak masih menjalani isolasi,” ungkapnya.


Selama isolasi diri, Poniran melakukan aktivitas seperti biasanya. Ia tetap semangat menjalani hidup, mencuci dan mandi hingga bercocok tanam di hutan keluarga itu. 


“Semua ini dijalani bapak dengan harapan semua sehat, tidak terpapar korona,” ucapnya.


Sri Sukarni berharap, hingga usai menjalani masa isolasi mandiri sang suami tetap diberi kesehatan dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga.


“Semoga semua berjalan sesuai harapan dan wabah ini segera usai, sehingga semua bisa normal seperti sebelumnya,” harapnya. 




Sumber: Fajar.co.id

Posting Komentar untuk "Demi untuk Rayakan Ultah Putrinya, Poniran Isolasi Diri Sendirian di Tengah Hutan, Begini Ceritanya"