Enam Jam di Gedung Putih, Luhut: Saya Tak Pernah Membayangkan

NAFAZNEWS.COM - Banyak pengelaman berharga didapat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan saat kunjungan kerja di Amerika Serikat (AS).

Di sana Luhut mengaku hampir enam jam berada di Gedung Putih dan diterima di tempat kerja resmi Presiden AS, Oval Office, untuk bertemu Donald Trump.

"Saya tidak pernah membayangkan bahwa akan ada waktu suatu hari saya hampir selama enam jam berada di White House, dan bahkan berkesempatan untuk diterima di Oval Office. Untuk mengisi waktu Saya selagi menjalani karantina mandiri," ujar Luhut dalam keterangannya dikutip pada Selasa (24/11/2020).

Didampingi oleh Duta Besar RI untuk AS Muhammad Lutfi, Luhut menyampaikan apresiasi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Presiden Donald Trump yang telah memperpanjang fasilitas GSP untuk Indonesia. Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang mendapat peluang emas itu.

Selama dua tahun terakhir, Luhut menyebut dirinya intens berkomunikasi dengan Jared Kushner, menantu Trump dan rekannya Adam Boehler, CEO IDFC yang notabene keduanya merupakan tangan kanan Trump.

Karena kedekatan itulah LOI investasi sebesar 2 miliar dolar AS dari IDFC kepada SWF Indonesia ditandatangani pada 19 November lalu.

"Ini adalah oleh-oleh yang besar karena keberadaan AS sebagai negara industri maju akan berpengaruh penting bagi perkembangan SWF di Tanah Air," kata Luhut.

Selain pejabat Gedung Putih, kata Luhut, ternyata banyak investor yang bertemu dengannya untuk mengetahui perkembangan Indonesia, terlebih setelah disahkannya UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Luhut juga membahas penanganan pandemi Covid-19 dengan sahabatnya dari IMF dan World Bank untuk pemulihan ekonomi nasional, dan kelestarian lingkungan hidup.

"Berbagai respons baik saya terima selama kunjungan saya di sana adalah buah dari budaya dan adat ketimuran serta visi Presiden Jokowi yang sangat dikagumi oleh pemimpin negara manapun," ujarnya.

Luhut yakin, Indonesia akan selalu menjadi mitra strategis bagi negara sahabat, tak terkecuali AS dalam ekonomi maupun geopolitik, siapapun presidennya. Dirinya ingin terus menjalin komunikasi yang baik dengan pemerintahan AS berikutnya demi terbukanya peluang kerjasama yang luas di berbagai bidang. 



Sumber: iNews.id

Comment

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Previous Post Next Post
close