Ragu Masalah Rezeki? Coba Simak Nasihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

ilustrasi


NAFAZNEWS.COM - Dalam ilmu tasawuf yang mempelajari teori-teori sufi kita mengenal nama Imam Ghazali, sedangkan nama Syekh Abdul Qadir Al-Jailani lebih banyak dikenal dengan amaliahnya. Namanya sangat mashur, dijadikan sarana wushuliyyah, serta selalu disebut dalam setiap acara-acara keagamaan, di samping manakib-nya yang juga banyak dibaca tentang riwayat hidup sang tokoh.


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, mencoba mengingatkan kembali kepada kita umat muslim yang masih selalu ragu perihal masalah rezeki yang sudah jelas-jelas dijamin oleh Allah SWT. Syekh Abdul Qadir mengatakan bahwa keraguan perihal rezeki merupakan sesuatu yang tidak perlu karena Allah telah mengatur rezeki masing-masing orang.


Di dalam Kitab Fathur Rabbani wal Faidhur Rahmani, Syekh Abdul Qadir mengatakan keraguan dan ambisi perihal harta kerap menjerumuskan orang ke dalam keburukan.


Banyak orang, kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, menjadi tamak dan jauh dari kebaikan karena memiliki ambisi dan hasrat gila perihal rezeki. Hal ini merupakan efek samping dari keraguan pada pembagian Allah yang membuat jiwa gelisah.


“Rezeki sudah dibagi (diatur pembagiannya), tidak lebih, tidak kurang, tidak maju, dan tidak mundur. Sementara kamu ragu dengan jaminan Allah dan berambisi untuk menuntut rezeki yang bukan bagianmu? Padahal ambisi atau hasrat itu yang mencegahmu untuk berdekatan dengan ulama dan forum-forum kebaikan karena khawatir keuntungan dan dan pelangganmu berkurang?”. [Fathur Rabbani wal Faidhur Rahmani: 98]


Dalam sebuah hadis menerangkan bahwa Allah telah mengatur rezeki dan ajal masing-masing orang. Keduanya akan mendatangi masing-masing orang sesuai ketentuan Allah untuknya.


“Rasulullah SAW bersabda, ‘Rezeki sudah dibagi (diatur pembagiannya). Sebagaimana rezeki, ajal pun mengejar manusia,'” (HR Al-Ajaluni fi Kasyfil Khafa). Kepada orang yang cemas, ragu, gamang, gelisah, dan khawatir perihal rezeki, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani selanjutnya mengingatkan mereka pada kuasa Allah.


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengajak mereka untuk mengingat kembali pemberian rezeki selama ini. “Pada saat kamu di dalam kandungan ibumu, siapa yang memberikanmu asupan makanan? Apakah kamu bergantung pada dayamu, dinar-dirhammu, laba penjualanmu, atau penguasa di negerimu?” kata Syekh Abdul Qadir (Al-Jailani, 2005 M/1425-1426 H: 99).


Semua pihak yang kamu jadikan sandaran, kata Syekh Abdul Qadir, adalah tuhanmu. Semua pihak yang kamu takuti dan harapkan adalah tuhanmu. Semua pihak yang kamu anggap dapat memberikan manfaat dan mudharat juga adalah tuhanmu.


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menganjurkan mereka untuk bertobat dari kemusyrikan seperti ini sebelum Allah menutup pintu semua makhluk-Nya untuk mereka. “Kemusyrikan seperti ini yang kusaksikan hinggap pada banyak orang, paling umum menghinggapi mereka yang bermaksiat.”


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mendoakan mereka yang bertobat dari kemusyrikan sejenis agar Allah menerima tobat mereka, memandang mereka dengan rahmat, dan memperlakukan mereka dengan lemah lembut. Adapun yang perlu diingat bahwa nasihat ini bukan berarti menafikan upaya dan ikhtiar kita untuk menerima rezeki dari Allah.


Agar kita terdorong untuk selalu bersikap tenang dan bersabar di tengah ikhtiar dalam mencari rezeki yang Allah siapkan. Nasihat ini dimaksudkan untuk meluruskan pikiran kita bahwa kadar dan waktu rezeki Allah telah diatur untuk masing-masing orang. Wallahu a’lam.


Comment

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Previous Post Next Post
close