-->

Type something and hit enter

author photo
Editor On

 


NAFAZNEWS.COM -  Poot pooot poot. Tersengar suara tidak asing dari kejauhan. Ya, itu es cream jadul yang pernah hadir di waktu ku kecil. 


Saat itu aku tengah asik mengulik naskah berita, terdengan suara tersebut sontak saja aku langsung berdiri dan memanggil. 


“Beli,” pekik ku kepada si bapak penjual yang hampir jauh dari tempat ku kerja saat itu. 


Lidah ku sudah lupa rasa nikmat dari es cream jadul ini. Terakhir ku ingat membeli jajanan ini saat duduk di bangku sekolah dasar. 


“Mau beli berapa, ada yang dua ribu, tiga ribu sama lima ribu,” tanya si bapak kepada ku. 


“Ambilin jenis-jenis yang tadi” sebut ku kepada pak Marno. 


Bergegas si bapak langsung mengambilkan pesanan ku. 


Eh, ternyata yang diambilkan pak Marno hanya es cream yang ditaruh di dalam cup yang berbeda ukuran. Waktu ku kecil, es cream ditaruh di krupuk seperti trompet. 


Si bapak bercerita, kalau harga tidak cocok lagi menggunakan krupuk es cream itu. 


“Susah susah jualnya kalau pakai itu, harganya tidak cocok lagi,” ungkapnya. 


Namun, pak Marno mengatakan bahwa dirinya juga menujual es cream pakai roti.


“Yang pakai roti juga ada, harganya tiga ribu dan lima ribu,” sebutnya. 


Dalam benak ku, ini pas banget. Ini seperti waktu dulu banget dan tentu saja ku langsung memesan kembali.


Uhhh, rasanya es cream ini tidak pernah berubah dari masa ke masa. 


Rasanya khas banget, gurih dan manis ditambah lagi dengan roti dan lelehan susu coklat.


Sontak saja saat itu ku terbayang masa-masa indah waktu kecil dulu.  


Oh iya, pak Marno berjualan dari pukul 10.00 WIB hingga menjelang matahari terbenam. Ia keluar masuk Gang di Tembilahan untuk menjajakan dagangannya. 


Seharinya, pak Marno bisa membawa pulang Rp200.000 hingga Rp300.000.



Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Click to comment