Ustaz Abdul Somad: Orang Minangkabau Amat Pancasilais

Ustaz Abdul Somad
NAFAZNEWS.COM - Pernyataan Puan Maharani, tentang orang Sumatra Barat, masih memicu kontroversi hingga saat ini.

Seperti diketahui, saat memberikan rekomendasi PDI Perjuangan bagi bakal calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat, Mulyadi-Ali Mukhni, Puan Maharani menyatakan "Semoga Sumatera Barat menjadi Provinsi yang Memang Mendukung Negara Pancasila."

Masyarakat Minangkabau, suku asli Sumbar pun bereaksi, baik di tanah kelahiran maupun di perantauan.

Penceramah asal Asahan, Sumatra Utara, Ustaz Abdul Somad mengeluarkan pernyataan yang memukul telak anggapan masyarakat Minang belum mendukung Pancasila.

Dalam acara Indonesia Lawyers Club yang dipandu oleh Karni Ilyas, mulanya UAS, begitu ustaz tersebut akrab disapa, mengupas kemampuannya memahami teks.

"Tidak ada yang paling mengerti tentang suatu teks, kecuali orang yang mengucapkannya atau menuliskannya. Karena teks itu tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri, Oleh sebab itu kita hanya bisa menginterpretasikan," ujar Ustaz Abdul Somad, seperti kutip dari video yang diunggah channel Indonesia Lawyers Club di Youtube, Rabu, 9 September 2020.

UAS mengaku tidak bisa memahami teks karena yang paling memahami teks adalah pembuatnya.

"Al-Qur'an Insya Allah saya baca tafsir. Hadits Insya Allah saya baca syarah. Tapi kalau teks yang dikeluarkan oleh manusia, saya hanya bisa menduga-duga dan menebak-nebak saja," ujarnya dikutip dari laman Pikiran-rakyat.com.

Adapun tentang Pancasila, ia berpendapat orang Minangkabau sangat pancasilais, dilihat dari satu per satu sila-sila dasar negara itu.
Yang pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, kata UAS, orang Minangkabau, bukan hanya bertuhan.

"Mereka (suku minang), membuat orang yang tidak bertuhan, jadi bertuhan," katanya merujuk banyaknya jejak-jejak syiar Islam di tanah Sumbar.

Orang Minang juga mengamalkan sila kedua. Seperti tradisi menyimpan tempat beras di depan rumah orang, sehingga bukan hanya untuk makan keluarga sendiri, beras juga ada yang untuk dibagi-bagi ke orang miskin.

Mengenai persatuan Indonesia, ia juga menyinggung bahwa sebagai syarat berdirinya suatu negara, Minangkabau memiliki tokoh-tokoh yang bisa membuatnya.

Misalnya saja tokoh diplomasi Agus Salim, tokoh koperasi Moh. Hatta, imam masjidil Haram Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan sejumlah tentara pejuang.

Tapi kemudian ujar UAS, mereka tidak membuat negara, tapi menggabungkan diri ke NKRI.

Orang minang tidak mengambil keputusan sendiri, tapi selalu melibatkan orang lain dalam musyawarah mufakat, seperti dibunyikan sila keempat.

Sila kelima tampak pada tidak ada diskriminasi perempuan di Minangkabau.

"Orang Minangkabau amat sangat pancasilais," ucap dia lantang.

UAS memandang Puan sudah semestinya mengklarifikasi untuk menyudahi polemik yang muncul akibat dari sebuah pernyataan.

Dia juga meyakini ada hikmah yang dapat diambil dari kejadian itu.

"Oleh karena itu kita perlu menjelaskan seperti saya menjelaskan apa yang saya sampaikan. Saya menganggap di balik itu semua tentu ustaz selalu berkata ada hikmahnya," ujarnya.

Dari polemik ini, UAS juga berharap Puan dapat mengambil pelajaran. Diharapkan ke depannya dapat melakukan persiapan yang matang sebelum menyampaikan pernyataan di hadapan umum.

"Siapa yang berbicara sesungguhnya dia sedang mempresentasikan isi kepalanya kepada orang banyak. Siapa yang berbicara dia sedang menunjukkan isi kepalanya kepada orang banyak," kata UAS.

Ustaz Abdul Somad menambahkan, "Oleh karena itu kalau kita tidak terlalu terlatih terbiasa untuk bicara, lebih baik bicara pakai teks, lebih selamat. Karena kita memang telah terbiasa berbicara pakai teks dari dulu sampai sekarang.

Comment

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Previous Post Next Post