Ustaz Abdul Somad Uraikan 5 Nilai Pancasila di Tanah Minang

NAFAZNEWS.COM - Ketua Dewan Perwakilan Rakat (DPR) Republik Indonesia (RI), Puan Maharani yang dinilai menyinggung soal Pancasila di Sumatera Barat (Sumbar) masih hangat dibincangkan publik.

Tak sedikit pihak turut memberikan komentar baik pro maupun kontra. Khususnya di tanah Minang sendiri, pernyataan Puan itu memicu polemik.

Persatuan Pemuda Mahasiswa Minang (PPMM) pun melaporkan Puan Maharani ke Bareskrim Polri pada Jumat 4 September 2020. Selain ke polisi, perkumpulan ini berencana melaporkan Puan ke Majelis Kehormatan DPR.

Menyusul polemik tersebut, terdapat sebuah diskusi bertopik 'Sumbar Belum Pancasilais?' dalam program acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang diunggah akun Youtube dengan nama serupa pada Selasa, 8 September 2020.

Seperti diberitakan PORTALJEMBER.com sebelumnya dalam artikel berjudul 'Ustadz Abdul Somad: Orang Minang Layak Buat Negara, tapi Memilih Gabung ke NKRI', salah satu narasumber dalam ILC yakni Ustadz Abdul Somad (UAS) sempat menanggapi materi diskusi.

"Saya tidak paham teks Al Quran, saya baca tafsir. Tidak paham hadits, membaca syarah. Kalau teks dari manusia, maka saya hanya bisa menduga-duga dan menebak-nebak saja," ujarnya.

Ia mengatakan, terkait Minangkabau dan Pancasila, maka bisa dilihat dari sila-silanya. Jika di Melayu masih banyak suku-suku yang belum bertuhan, maka di Minang tidak hanya ber-Tuhan. Tetapi, mengajak orang yang tidak bertuhan menjadi ber-Tuhan.

Dikutip dari laman pikiran-rakyat.com tentang kemanusiaan (sila ke-2), UAS mengatakan bahwa di depan rumah Minang ada tempat menyimpan beras. Ada beras untuk keluarga dan beras untuk fakir miskin.

Soal persatuan, menurut UAS orang Minang hidup rukun dan punya syarat cukup untuk membuat negara. Tidak ada pula yang diplomasi luar negerinya lebih hebat melebihi H. Agus Salim.

Demikian pula soal ekonomi, UAS menyatakan bahwa Bung Hatta orang Minang adalah bapak koperasi. Soal agama pun, tidak hanya level nasional, tapi melahirkan banyak ulama level internasional.

"Ulama Minang Syeikh Minangkabawi adalah imam Masjidil Haram. Universitas Al Ahzar dalam sejarah hanya sekali memberi doktor honoris causa, seorang ayah dan anaknya, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah," tutur UAS.

Termasuk prajurit, menurut UAS banyak tentara-tentara hebat, mereka semua tidak mendirikan negara. Tetapi, bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Berdasarkan keterangan UAS tentang musyawarah, orang Minang tidak mengambil keputusan sendiri. Filosofi orang Minang ibarat 3 tungku yakni pemerintah, ulama, dan cerdik pandai yang semuanya dinilai telah melakukan musyawarah.

Terkait nilai adil, perempuan Minang menurut UAS tidak diskriminasi.

"Orang Minang juga tidak pemarah, tidak pendendam. Panasnya debat Muh. Yamin dengan HAMKA, HAMKA pula yang membawa jenazah Yamin saat meninggal," tandasnya.

Ia menyebutkan bahwa pada 29 Mei 1945 lalu, Moh. Yamin yang orang Minang sudah menyuarakan Peri Kebangsaan. Lalu, berkumpul 9 orang dimana 3 orang diantaranya adalah orang Minangkabau.




Comment

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Previous Post Next Post