-->

Type something and hit enter

Editor On



NAFAZNEWS.COM - Bupati Bogor Ade Yasin menilai PPKM darurat memiliki pengaruh besar untuk menekan penyebaran COVID-19 di wilayahnya. Menurutnya, jika tidak ada PPKM darurat, kemungkinan orang terpapar COVID-19 akan semakin banyak.


"Besar ya (pengaruh PPKM darurat), kalau tidak ada PPKM mungkin orang yang tertularnya semakin banyak, jadi ini dengan ada PPKM kita juga mudah-mudahan bisa menahan laju tetularan di masyarakat," kata Ade dalam diskusi virtual bertajuk 'Jalan Terjal PPKM Darurat', Sabtu (17/6/2021).


Ade mengaku situasi pandemi COVID-19 di wilayahnya saat ini dalam kondisi tidak baik-baik saja jika dilihat secara keseluruhan. Namun dengan adanya PPKM darurat, mobilitas masyarakat jadi menurun.


"Kalau ditanya situasi secara keseluruhan terkait pandemi ya pasti tidak bak-baik saja ya, karena memang kita sedang PPKM darurat, dan PPKM darurat juga sudah bisa menurunkan tingkat keramaian, menurunkan mobilitas masyarakat, menurunkan penularan," ujarnya.


Ade mengatakan Bed Occupancy Rate (BOR) rumah sakit (RS) di Kabupaten Bogor sudah lebih dari 90 persen. Total ada sebanyak 29 rumah sakit, empat di antaranya merupakan rumah sakit umum daerah (RSUD) dan sudah full kapasitas.


"Sementara rumah sakit juga BORnya 90 persen lebih. Artinya barangkali ini sebelum PPKM (darurat) mereka sudah ada gejala karena kan menurut dokter itu inkubasi sekitar satu minggu dari ketertularan atau bisa lima hari, nah mungkin sebelum PPKM itu mereka sudah tertular, sehingga pada saat PPKM darurat diterapkan ini banyak yang kejadian terkena pandemi ini tertular," tuturnya.


"Ya kita walaupun rumah sakit keteteran di Kabupaten Bogor ini kan cukup luas paling banyak penduduknya se-Indonesia ya jadi kita maksimalkan di 29 RS baik RS swasta maupun daerah. Kita kebetulan punya 4 RS daerah semuanya full bahkan beberapa RS juga dibuat tenda untuk pasien IGD. Tingkat kematian juga cukup tinggi sehingga kita harus terus berjibaku satu sisi kita harus fokus kesehatan, satu sisi kita juga harus fokus penertiban terhadap masyarakat yang tidak taat prokes," sambungnya.


Ade menyampaikan tingkat kepatuhan masyarakat saat PPKM darurat di beberapa wilayah perbatasan sudah cukup tinggi. Namun masih ada masyarakat di wilayah pedesaan yang tidak percaya COVID-19 sehingga penerapan protokol kesehatannya belum maksimal.


"Kalau di Kota, tingkat kepatuhannya sudah cukup tinggi. Di kota-kota yang berdekatan dengan Jakarta seperti Cibinong, Citereup, Gunung Putri, Cileungsi memang juga zona-zona yang merah, karena berdekatan dengan Bekasi Tangsel dan lain-lain. Jadi mobilitas tinggi. Tapi prokes mereka sudah patuh lah 50 persen sudah cukup patuh. Tetapi yang di daerah-daerah yang di kampung-kampung ini sulit sekali, mereka biasanya berpendapat di kampung mah nggak ada Corona tetapi orang kota kan ada yang datang ke kampung karena tidak kelihatan siapa tahu kan," ucapnya.


"Makanya ini kita sosialisasikan terus kita galakan nggak henti-henti di desa-desa, makanya kita buat RT/RW desa siaga ada Satgas mulai Kabupaten, desa Kecamatan dan RT/RW sehingga kita butuh kebersamaan dari RT/RW," imbuhnya.



Sumber: Detik.com

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Click to comment