-->

Type something and hit enter

Editor On


Ilustrasi


NAFAZNEWS.COM – Minggu pertama sangat menentukan bagi individu yang terinfeksi COVID-19. Dipaparkan Dekan Universitas Indonesia, Prof. Ari Fahrial Syam, observasi gejala di pekan pertama ini menentukan kondisi selanjutnya dalam melawan virus corona.

Dijelaskan Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, saat virus masuk ke dalam tubuh, daya tahan tubuh akan melawan keberadaan virus tersebut yang disebut sebagai masa inkubasi sampai seorang yang sudah terpapar infeksi tersebut mengalami gejala.

Oleh karena itu, penting sekali mengobservasi diri sendiri untuk mengetahui perubahan yang dialami pada tubuh di masa pandemi ini.

"Minggu pertama saat seseorang sudah bergejala merupakan kunci penting apakah kita bisa sembuh atau sebaliknya kondisi kita semakin buruk," paparnya dikutip dari keterangan pers yang diterima VIVA, Selasa, 13 Juli 2021.

Itu sebabnya, WHO mengeluarkan rekomendasi untuk pasien yang terinfeksi virus dan tanpa gejala, cukup isolasi mandiri selama 10 hari dan bisa dikatakan sembuh lalu lepas isolasi.

Karena jika dalam 10 hari masih tetap tanpa gejala, sebenarnya daya tahan tubuh kita bisa menghancurkan virus tersebut.

"Makanya untuk pasien tanpa gejala tidak perlu minum antivirus, cukup dengan vitamin-vitamin," ungkapnya.

Begitu pun untuk pasien dengan gejala ringan, diusahakan agar tetap dipertahankan tidak memburuk khususnya pada minggu pertama tersebut. Masa isolasinya 10 hari ditambah tiga hari tanpa gejala, karena dianggap bahwa pasien tersebut sudah berhasil mengatasi infeksinya.

"Kuncinya adalah istirahat, banyak tidur, tidak stres, tetap makan dan minum yang cukup. Ketika badan sudah tidak nyaman, segera istirahat jangan dipaksakan untuk tetap bekerja atau beraktivitas. Karena pada minggu pertama, kita harus memberikan kesempatan daya tubuh kita bisa melawan virus tersebut," tegasnya.

Rekomendasi obat

Pada pasien dengan gejala ringan dan sedang yang sedang isoman antivirus seperti favipirafir dan obat azitromisin sudah bisa diberikan. Favipiravir sebagai obat anti virus untuk mengurangi jumlah virus, azitromisin sebagai anti radang dan imunomodulator untuk melawan virus tersebut.

"Observasi saya atas kasus yang memburuk salah satunya adalah mengonsumsi dexamethasone baik generik maupun merk dagang," paparnya.

Beberapa waktu ada edaran yang memberikan daftar obat untuk pasien isoman salah satunya untuk  mengosumsi dexamethasone, juga ditemukan resep dari platform telemedicine yang juga memberikan dexamethasone.

Ilmu kedokteran berbasis bukti menyebut dexamethasone tidak berguna untuk pasien tanpa gejala, begitu pun untuk gejala ringan dan sedang.

"Saya pernah menyampaikan mengenai dampak buruk mengonsumsi dexamethasone ini. Saya sebut obat ini sebagai pisau bermata dua," ujar Prof Ari.

Untuk yang tanpa gejala, gejala ringan dan sedang, khususnya di awal penyakit, yang dibutuhkan adalah peningkatan daya tahan tubuh. Dexamethasone membuat daya tahan tubuh kita menjadi lemah, sehingga membuat virus menjadi mudah merajalela.

Untuk pasien dengan hipertensi dan kencing manis, dexamethasone bisa membuat gula darah menjadi tidak terkendali. Pun, bagi yang menderita hipertensi tekanan darah menjadi tidak terkontrol, obat itu akan memperburuk pasien dengan kedua penyakit ini yang memang menjadi komorbid untuk pasien COVID-19.

"Efek samping dexamethasone juga menyebabkan pasien menjadi mudah cemas dan insomnia, hal yang harus dihindari saat kita menderita COVID-19. Belum lagi dexamethasone membuat kita menjadi mual dan perih di lambung membuat kita nafsu makan. Hal ini menjadi catatan pemberian ini akan membuat kondisi bertambah buruk," tutupnya.


Sumber: Viva.co.id

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Click to comment