Khawatir RI Jadi Pusat Epicentrum Corona Dunia, Para Dokter Dilanda H2C

NAFAZNEWS.COM - Terus meroketnya jumlah pasien Corona setiap harinya bikin para dokter dilanda H2C alias harap-harap cemas. Jika tidak ada perubahan, mereka khawatir Indonesia bisa jadi epicentrum Corona dunia.

Kekhawatiran para dokter itu memang beralasan. Sejak pasien pertama diumumkan Presiden Jokowi awal Maret lalu, jumlah kasus positif Corona tak pernah menurun. Yang ada, bertambah dan terus bertambah.

Merujuk data Kementerian Kesehatan yang dirilis kemarin, terdapat penambahan kasus sebanyak 3.891 orang. Ini merupakan kasus anyar tertinggi kedua. Kasus tertinggi terjadi Rabu (16/9) dengan jumlah mencapai 3.963 orang.

Dengan penambahan kasus baru tersebut, total kasus Corona berjumlah 236.519 orang. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus Corona tertinggi di Asia Tenggara.Sementara jumlah pasien yang meninggal dunia juga bertambah sebanyak 114 orang. Dengan penambahan ini, total pasien Corona di Indonesia yang meninggal dunia mencapai 9.336 orang.

Jumlah dokter yang meninggal karena Corona juga terus bertambah. Sampai Kamis (17/9), ada 117 dokter yang gugur. Mereka tersebar di sejumlah wilayah. Terbanyak di Jawa Timur dan Sumatera Utara.

Kondisi ini membuat Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cemas. Ketum PB IDI, Adib Khu­maidi mengatakan, Indonesia belum mencapai puncak pandemi gelombang pertama. Artinya, jumlah kasus Corona akan terus bertambah. Jika tidak ada perubahan, Indonesia akan menjadi epicentrum Corona dunia.

"Tentu akan berdampak semakin buruk pada ekonomi dan kesehatan ne­ gara kita," kata Adib, dalam keterangan resmi kepada wartawan, kemarin.

Menurut Adib, kematian ratusan dokter dan tenaga kesehatan selama pandemi, makin menambah beban pekerjaan para dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan yang proporsional. "Ini menunjukkan masyarakat masih abai terhadap protokol kesehatan," ujarnya.

Adib memahami, masyarakat lebih me­mentingkan ekonomi daripada kesehatan. Namun, ia berharap masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan. Pandemi tak akan berakhir apabila tidak disertai peran serta semua elemen masyarakat.

Ketua Tim Protokol Tim Mitigasi PB IDI, Eka Ginanjar sedih dengan jumlah kematian masyarakat dan tenaga kesehatan di Indonesia. Menurutnya, jumlah kematian tersebut merupakan yang tertinggi di Asia. Karena itu, dia mewanti­-wanti masyarakat agar disiplin mengenakan masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan.

Kata dia, kasus penularan yang tak terkontrol akan mengakibatkan kolapsnya sistem kesehatan. Hal itu ditandai dengan tingginya tenaga kesehatan yang terpapar Covid dan sulitnya mencari tempat perawatan.

Ketua Satgas IDI, Prof Zubairi Djoerban mengatakan, tingginya penam­bahan kasus positif dikarenakan masih rendahnya jumlah tes yang dilakukan. Menurut dia, tes masif hanya dilakukan di DKI Jakarta. Sementara provinsi lain masih jauh dari standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia alias WHO.

"Seharusnya tidak ada alasan beda. Pemerintah bilang dananya banyak," ujarnya. Merujuk data Worldmeters, Indonesia menempati posisi 162 dari 215 negara dalam jumlah rata­-rata tes Corona.

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono mengatakan, untuk menahan laju penularan Corona, sebaiknya pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) nasional. "Biar lebih efektif," pungkasnya.

 

 

Sumber: Rmco.id

Comment

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Previous Post Next Post