-->

Type something and hit enter

author photo
Editor On

 


NAFAZNEWS.COM - dr Boyke ungkap alasan orang Jadi LGBT. Belum lama ini, tepatnya pada April 2021 lalu, sepasang pengantin gay asal Thailand dihujat dan dipersekusi ramai-ramai netizen Indonesia. Selain melontarkan komentar buruk, pasangan ini juga mendapat ancaman mati.


Akibatnya, Suriya Koedsang, salah seorang pengantin gay itu menempuh jalur hukum dengan melaporkan hal tersebut ke Ronnarong Kaewpetch dari Network of Campaigning for Justice.


Jalur hukum terpaksa ditempuh setelah Suriya lantaran selain dirinya dan pasangannya yang juga ‘suami’-nya, ia juga menerima ancaman mati terhadap orang tua, hingga fotografer pernikahan mereka. Pasangan gay Thailand ini dihujat beramai-ramai netizen Indonesia di Facebook, setelah Suriya mengunggah foto-foto pernikahan mereka, seperti diberitakan Kompas.com, Selasa 13 April 2021.


Sebagian besar netizen berjuluk +62 itu juga menyebut pernikahan mereka 'dilarang oleh Tuhan' hingga 'bakal membuat dunia kiamat'.


Menyoal gay atau kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) seperti dirangkum Terkini.id pada Sabtu 10 Juli 2021 dari cuplikan rekaman video di kanal Youtube Podcast Deddy Corbuzier yang diunggah pada Senin 24 Februari 2020 lalu, pakar seksologi dr Boyke Dian Nugraha mengungkapkan penyebab seseorang bisa menjadi LGBT.


Dalam Podcast Deddy Corbuzier bertajuk ‘Kenapa Orang Bisa Jadi Banci’, dr Boyke menjelaskan banyak alasan yang membuat seseorang memilih menjadi LGBT atau dalam medisnya disebut ‘homo’. Ia mengungkapkan, salah satunya adalah trauma masa lalu.


“Misalnya dia pernah dilecehkan, digoblok-goblokin, dibilang bodoh, pernah disodomi, dibanding-bandingkan dengan kakaknya hingga akhirnya dia minder dan berubahlah orientasinya,” paparnya.


Orientasi yang dimaksud dr Boyke merujuk kepada persepsi konteks seksualnya. Tidak hanya itu, kepada Deddy Corbuzier, ia blak-blakan membuka pengalaman pribadinya saat menerima ‘pasien’ LGBT yang datang ke tempat praktiknya.


Ia menyebut, kebahagiaan orang yang LGBT itu dengan pasangan sebelumnya juga mempengaruhi orientasi seksualnya bisa beralih.


Menurut dr Boyke, ketika orang yang mulanya hetero alias normal disakiti pasangan lawan jenisnya dan menyebabkan kesedihan yang mendalam, maka bisa jadi akhirnya mereka akan mencari kebahagian dengan yang sejenis.


“Misalnya kamu diselingkuhin, kamu disakitin, pokoknya kecewa banget kamu dengan dia, hingga bergeser skala orientasi tadi,” bebernya saat Deddy bertanya lebih lanjut bagaimana sebenarnya orang yang LGBT itu.


Dokter seksologi kondang yang banyak dekat dengan para selebriti itu juga mengungkakan, dalam dunia kedokteran itu ada yang namanya skala nol hingga enam untuk mendefinisikan orientasi seksual seseorang.


“Jika mereka berada di skala nol, mereka tergolong orang yang hetero, di skala tiga berarti mereka bisksual, sedangkan jika sudah berada di skala enam, itu berarti mereka homo,” urai dr Boyke.


Terkait alasan lain seseorang menjadi LGBT, ia menjelaskan 70 persen berasal dari faktor lingkungan, tiga hingga lima persen itu bawaan hormon, dan 30 persen disebabkan selama ia dikandung hingga masa pubertas.


Dr Boyke juga menyebut, faktor yang mempengaruhi adalah di mana tempat tinggal seseorang, dengan siapa ia bergaul, dan bagaimana kondisi sosial di sana, akan sangat berpengaruh bahkan dapat mengubah orientasi seksual seseorang.


“Ketika terjadi obrolan antara mereka, misalnya ‘lho disakiti laki ya? Cowok emang gitu’ dan bla, bla, hingga akhirnya jadilah mereka berdua (lesbian atau gay),” imbuhnya.


Di samping itu, masih menurut dr Boyke, budaya yang berkembang di suatu daerah juga bisa memicu seseorang menjadi homo. Terlebih budaya di Indonesia.


Ia membagikan ceritanya ketika berkunjung ke Padang, Sumatera Barat. Ia diundang ke sana karena menurut perhitungan, Padang merupakan daerah yang angka LGBT-nya paling tinggi.


“Jadi, malam-malam saya keluar dan melihat laki-laki sama laki-laki gandengan tangan, juga ada perempuan gandengan tangan, terus saya tanya orang di sana, itu katanya nggak apa-apa, udah biasa,” beber dr Boyke.


Mendengar pernyataan warga di sana tersebut, ia mengaku terkejut lantaran menurutnya wajar jika di Padang angka LGBT tinggi karena budaya seperti itulah yang membuka peluang besar untuk seseorang menyukai sesama jenis.


Pasalnya, sebut dr Boyke, di Padang memang ada larangan laki-laki sama perempuan keluar berduaan malam-malam, sementara jika perempuan sama perempuan atau laki-laki sama laki-laki itu wajar.


Sehingga, ia mengatakan mereka cendrung tidak sadar ketika laki-laki keluar dengan laki-laki dan perempuan main sama perempuan itu membuat mereka akhirnya berubah haluan menjadi homo.


Lebih dari itu, dr Boyke membagikan pengalamannya dengan ibu pasien yang menangis saat konsultasi dengannya.


Tanpa diketahui si ibu, anak perempuannya ternyata lesbian. Bahkan sudah hampir enam tahun menjalin hubungan dengan perempuan yang disangka hanya sebatas sahabat oleh ibunya.


Selama ini, si ibu menyangka lazim ketika anaknya bersahabat dengan perempuan itu, disisiri rambutnya, tidur bersama, hingga mandi berdua, tanpa ada kecurigaan.


“Inilah yang membuat peluang terjadinya kelainan itu, budaya-budaya seperti inilah pemicunya,” ujar dr Boyke saat menegaskan apa sebenarnya alasan seseorang menjadi LGBT.


Sekadar diketahui, LGBT atau GLBT adalah akronim dari ‘lesbian, gay, biseksual, dan transgender’. Istilah ini digunakan sejak 1990-an dan menggantikan frasa ‘komunitas gay’ karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan tadi.


Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman ‘budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender’. Kadang-kadang, istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual, biseksual, atau transgender. Oleh karena itu, sering kali huruf Q ditambahkan agar queer dan orang-orang yang masih mempertanyakan identitas seksual mereka juga terwakili. Contohnya, ‘LGBTQ’ atau GLBTQ’, yang tercatat sejak 1996.


Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukkan diri. Istilah ini juga digunakan mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa.


Di Indonesia dan negara-negara Timur Tengah lainnya, LGBT tidak diakui sama sekali dan dinyatakan sebagai penyimpangan seksual. Sementara di Amerika Serikat dan kebanyakan negara Eropa lainnya, termasuk Thailand di Asia, LGBT tidak dianggap sebagai komunal dengan penyimpangan seksual akan tetapi kelainan orientasi seksual. Sehingga, mereka bisa diterima dan mendapatkan hak yang sama dengan warga negara lainnya.


sumber terkini.id


 

Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat

Click to comment